Aspirin Dosis Rendah Kurangi Risiko Kanker Usus

Aspirin dosis rendah yang dikonsumsi setiap hari dalam jangka panjang efektif untuk mengurangi risiko kanker kolorektal hingga seperempatnya. Risiko kematian akibat penyakit ini juga berkurang hingga sepertiganya.
Sebelumnya aspirin dosis rendah juga disarankan untuk pasien yang memiliki risiko tinggi terkena serangan jantung dan stroke. Dalam pencegahan kanker kolon atau kanker usus, aspirin dalam dosis tinggi memang efektif namun memiliki efek samping perdarahan.
Karena itu para ahli mencoba meneliti apakah jika dosisnya diturunkan, efek perlindungannya tetap sama. Dalam penelitian ini para ilmuwan menindaklanjuti empat riset yang dilakukan di Inggris dan Swedia antara tahun 1980-1990 mengenai dampak aspirin pada pasien kardiovaskular.

Secara umum, dari penelitian selama enam tahun, partisipan diminta mengonsumsi aspirin dalam dosis 1200 mg atau pil placebo. Lebih dari 14.000 pasien yang diikuti riwayat kesehatannya selama 18 tahun, 391 menderita kanker kolorektal.
Mereka yang mengonsumsi aspirin, risiko kankernya berkurang hingga 24 persen dan risiko kematian bisa ditekan hingga 35 persen. Hasil riset ini konsisten pada empat penelitian. Sayangnya tidak ada data mengenai efek samping penggunaan aspirin dalam jangka panjang karena sejak awal studi ini didesain untuk meneliti penyakit kardiovaskular.
“Hasil studi ini menunjukkan penggunaan aspirin dosis rendah dalam jangka panjang dikombinasikan dengan skrining mampu mengurangi insiden kanker di seluruh bagian kolon dan rektum,” kata Peter Rothwell, dari Universitas Oxford.
Kanker kolorektal merupakan salah satu jenis kanker yang paling umum terjadi pada pria dan wanita dewasa. Risiko kanker ini tampaknya lebih sering pada mereka yang pola makannya tinggi lemak dan rendah sayur serta buah segar. Risiko kanker kolorektal juga lebih tinggi pada perokok, peminum dan mereka yang kurang berolahraga.
Aspirin Turunkan Risiko Kanker
Ternyata obat pengencer darah seperti aspirin bisa membantu melawan kanker dengan meniadakan perlindungan terhadap penyimpangan sel tumor. Percobaan terhadap tikus menunjukkan, kombinasi aspirin dengan obat antipenggumpalan darah memperlambat pertumbuhan dan penyebaran melanoma (kanker kulit) dan tumor payudara.
Dijelaskan oleh tim peneliti dari Washington University, sel darah yang disebut platelet melindungi dan memberi makan sel tumor dalam darah, membuat lebih mudah bagi kanker untuk menyebar (metastasis).
Laporan yang ditulis dalam Journal of Cellular Biochemistry menyatakan bahwa menonaktifkan platelet bisa membantu memperlambat atau mencegah penyebaran ini. Penelitian ini mendukung temuan lain yang menunjukkan pengonsumsi aspirin atau obat serupa yang memengaruhi gen dan protein yang disebut COX-2, termasuk aspirin, ibuprofen, dan penghambat COX-2 Celebrex, memiliki risiko lebih rendah terhadap beberapa kanker. Juga ada beberapa rujukan bahwa mengonsumsi aspirin atau ibuprofen bersamaan dengan kemoterapi membuat kemo lebih efektif.
“Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sel tumor mengaktifkan platelet. Dan tikus dengan platelet kurang baik atau rusak secara signifikan bermetastasis lebih sedikit,” kata Dr. Katherine Weilbaecher, pemimpin penelitian, kepada Reuters. “Platelet memiliki sejumlah sifat yang bisa membantu sel tumor. Kami berupaya memisahkan hubungan yang berpotensi mematikan itu,” tambahnya.

Peneliti menggunakan aspirin biasa yang dikombinasi dengan obat antiplatelet percobaan yang disebut APT102. Saat mereka menginjeksi tikus dengan sel kanker payudara dan melanoma, secara cepat tumor menyebar ke tulang. Namun, pada tikus yang mendapat aspirin dan APT102, tumor yang tumbuh dan menyebar menjadi lebih kecil. “Apakah obat memiliki efek sendiri-sendiri atau mungkin karena platelet membuat proses tertentu, memang harus dilihat dari banyak sudut pandang,” ujar Weilbaecher.
Yang jelas, aspirin mencegah platelet membentuk thromboxane, substansi yang memfasilitasi pembekuan darah. “APT102 merupakan obat yang menarik karena bisa mengenyahkan komponen yang disebut ADP. Sel tumor melepaskan dan menstimulasi platelet untuk menggumpal, sehingga APT102 mencegah aktivasi platelet dalam merespon sel tumor,” ungkapnya lagi.
“Obat antiplatelet seperti aspirin ditambah APT102 bisa menjadi alat percobaan bernilai untuk meneliti peran dari aktivasi platelet dalam metastasis seperti halnya pilihan pengobatan untuk mencegah metastasis di tulang,” tulis peneliti.
Weilbaecher dan kolega menguji teorinya pada perempuan dengan kanker payudara guna mengetes aspirin dan obat antipembekuan Plavix, antiplatelet lain untuk melihat apakah kombinasi itu menurunkan jumlah sel tumor dalam darah. (Journal of Cellular Biochemistry)

Aspirin Dosis Rendah Lindungi Jantung Anda
Kebanyakan orang sudah mengenal aspirin sebagai obat pereda nyeri. Mungkin belum banyak yang tahu aspirin juga bisa mencegah penyakit kardiovaskular (PKV), tetapi dosisnya berbeda. Sebagai pereda nyeri, dosis aspirin biasanya sekitar 500 mg. Nah, untuk pencegahan PKV, dosisnya sangat rendah. “Hanya 100 mg per hari,” tutur Dr. Jetty Sedyawan, Sp.JP(K), FIHA.
Tak seperti aspirin yang dijual bebas, penggunaan aspirin dosis rendah ini harus diresepkan dokter. Menurut Dr. Jetty, aspirin ini harus dikonsumsi rutin sehingga memerlukan konsultasi dan pengawasan dokter.
Aspirin yang juga dikenal dengan nama acetyl salicylic acid (ASA) atau asam asetil salisilat, sudah ditemukan lebih dari 100 tahun lalu. Sudah banyak pula studi yang dilakukan berkaitan dengan aspirin.
100 mg
Dalam Women’s Health Study yang dilakukan terhadap wanita usia 45 tahun ke atas yang tidak memiliki riwayat penyakit jantung koroner (PJK) atau serbrovaskular (gangguan pembuluh darah, jantung, dan otak), penggunaan aspirin dosis 100 mg selang sehari dapat menurunkan risiko stroke iskemik sebesar 24 persen. Juga mengurangi risiko stroke nonfatal atau kematian akibat penyakit kardiovaskular pada wanita usia 65 tahun ke atas, sebesar 26 persen.
Penelitian terhadap aspirin terus berlanjut. Salah satu studi yang baru-baru ini diumumkan adalah ARRIVE (Aspirin to Reduce Risk of Initial Vascular Events) yang bisa diartikan sebagai aspirin untuk menurunkan risiko kejadian vaskular awal pada pasien yang belum mengalami kejadian vaskular.
Penelitian berskala internasional ini merupakan salah satu studi klinis terbesar yang pernah ada untuk mengevaluasi serta menguji manfaat ASA dosis rendah dalam mengurangi serangan kardiovaskular dan serebrovaskular pertama.
Studi ARRIVE dilakukan di Jerman, Italia, Spanyol, Inggris, dan AS. Dalam periode lima tahun ke depan, para peneliti akan mengamati efek pemakaian ASA dosis rendah setiap hari, untuk mengurangi terjadinya serangan jantung dan stroke fatal dan tak fatal pertama pada pasien dengan risiko menengah.
Risiko menengah ini didefinisikan sebagai risiko penyakit kardiovaskular sebesar 20-30 persen dalam 10 tahun atau risiko penyakit jantung koroner 10-20 persen dalam 10 tahun.
Responden untuk studi ARRIVE diambil dengan persyaratan berisiko sedang, tak ada riwayat kejadian kardiovaskular, tidak ada riwayat tukak lambung/duodenal atau perdarahan gastrointestinal, tidak diperbolehkan menggunakan NSAID atau penghambat COX-2 dalam jangka panjang. Sekitar 12 ribu pasien dari lebih 400 lokasi penelitian akan dilibatkan dalam penelitian ini.
Risiko Menengah
Menurut J. Michael Gaziano, MD, MPH, Kepala Divisi Aging di Brogham and Women’s Hospital di Boston, Massachussetts, AS dan Ketua Komisi Eksekutif ARRIVE, dengan ARRIVE diharapkan dapat dikembangkan bukti kuat yang sudah ada saat ini tentang penggunaan ASA dosis rendah sebagai pencegah utama kejadian penyakit kardiovaskular pada populasi dengan risiko menengah. Pasien dengan risiko menengah akan menjadi kandidat tepat untuk terapi ASA ini.
ARRIVE merupakan penelitian multinasional, acak buta ganda dengan plasebo-kontrol. Para responden akan dipantau hingga diperoleh jumlah kejadian penyakit kardiovaskular yang memadai teramati untuk dilakukan analisis.
Penelitian ini akan berjalan selama lima tahun. Titik ahkir utama penelitian adalah penilaian waktu hingga terjadinya infark miokard nonfatal, stroke nonfatal, dan kematian akibat kardiovaskular (termasuk stroke fatal) pertama kali. Diharapkan, hasil penelitian yang disponsori Bayer Healthcare ini bisa diterima publik pada tahun 2013.
Diperkirakan pada tahun 2020, penyakit jantung dan stroke akan menjadi penyebab utama kematian dan cacat di seluruh dunia. Saat ini, penyakit jantung dan stroke menjadi penyebab kematian nomor satu di seluruh dunia. Sekitar 17,5 juta orang meninggal atau 30 persen dari total kematian di seluruh dunia.
( Sumber : kompashealth / mazharry )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s